Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas mengenai unjuk kerja sistem instrumentasi pengukuran. Dari tulisan tersebut telah dibahas mengenai istilah-istilah yang dipakai untuk memperlihatkan unjuk kerja (performansi) dari sebuah sistem istrumentasi pengukuran maupun elemen-elemen penyusunnya.
Seperti dijelaskan sebelumnya pada “Sistem Pengukuran (Part 1)” bahwa sistem instrumentasi terdiri dari sensor, prosesor sinyal, dan penampil data. Banyak sekali jenis-jenis sensor yang dikelompokan berdasarkan fungsinya, seperti:
1. Sensor perpindahan
2. Sensor kecepatan
3. Sensor tekanan fluida
4. Sensor aliran fluida
5. Sensor ketinggian cairan
6. Sensor temperatur
7. Dan lain sebagainya.
Untuk menjelaskan contoh-contoh dari ketujuh jenis sensor di atas, maka diperlukan postingan yang terpisah, mengingat satu jenis sensor saja dapat memiliki beberapa contoh sensor. Misalnya untuk sensor perpindahan, dapat ditemukan contoh-contoh sensor seperti potensiometer, strain gauge, sensor kapasitor, LVDT, Enkoder optis, Sensor posisi optis, Tachogenerator, dan lain sebagainya.
Demikian halnya dengan prosesor sinyal, ada yang disebut dengan jembatan Wheatstone, ADC, DAC, Op-amp, dan sistem transmisi lain yang digunakan untuk memproses sinyal yang keluar dari sensor sebelum menuju penampil data. Dengan belajar prosesor sinyal ini, maka kita tidak akan bingung lagi dengan pertanyaan “bagaimana ceritanya tekanan 3-15psig dapat dirubah menjadi 4-20A?” atau biasa disebut dengan P/I (P to I) dan demikian juga sebaliknya I/P. (Ane sendiri sebagai nubi, pas kuliah suka heran dengan yang namanya Transmitter karena ga tau cara kerjanya
).
Elemen yang terakhir adalah penampil data, dapat berupa indikator yang berupa kertas dan jarum penunjuk maupun angka digital yang terdiri dari lampu LED. Selain indikator juga ada perekam yang dapat menyimpan data atau untuk digunakan/diolah lain waktu.
